web statistics


Ditutup Melemah, Gerak Rupiah Makin Mengkhawatirkan

Discussion in 'Strategi Trading' started by pohonjambu, Mar 5, 2018.

  1. pohonjambu

    pohonjambu
    Expand Collapse
    New Member

    Joined:
    Sep 4, 2017
    Messages:
    4
    Likes Received:
    0
    [​IMG]
    Rupiah kembali harus berakhir melemah pada penutupan perdagangan awal pekan (5/3) ini sehingga dianggap telah memasuki fase yang cukup mengkhawatirkan. Menurut penuturan Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, mata uang NKRI harus mengakhiri transaksi dengan penurunan tipis sebesar 5 poin atau 0,04% ke level Rp13.762 per dolar AS.

    Sebelumnya, rupiah sudah ditutup turun 9 poin atau 0,07% di posisi Rp13.757 per dolar AS pada perdagangan akhir pekan (2/3) kemarin. Mata uang Garuda sempat rebound 10 poin atau 0,09% ke level Rp13.747 per dolar AS ketika membuka pasar pagi tadi. Namun, selepas jeda siang, spot berbalik melemah yang bertahan hingga tutup dagang.

    Tren pelemahan yang dialami mata uang domestik ini sudah dinilai dalam fase mengkhawatirkan. Jika Federal Reserve mewujudkan kenaikan suku bunga acuan sebanyak empat kali sepanjang tahun 2018 ini (kemungkinan di bulan Maret, Juni, Agustus, dan November), rupiah dipastikan berayun lebih kencang dan diprediksi dapat menyentuh level Rp14.000 per dolar AS.

    “Pentolan The Fed, Jerome Powell, sebelumnya telah mengisyaratkan mengerek suku bunga acuan hingga empat kali. Kalau itu sampai terjadi, maka rupiah akan sangat fluktuatif,” tutur ekonom Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara. “Karena itu, Bank Indonesia bisa melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah, dengan cara melakukan intervensi pasar.”

    Menurut Bhima, pada tahun 2016 lalu, langkah ini sudah pernah dilakukan ketika The Fed menaikkan suku bunga. Untuk stabilisasi, cadangan devisa sempat turun sekitar 4 miliar dolar AS dalam satu bulan. “Kalau tekanan lonjakan Fed Fund Rate semakin kuat pada bulan Maret ini, bisa dibutuhkan cadangan devisa lebih dari 4 miliar dolar AS,” sambung Bhima.

    Bank Indonesia sendiri sempat mengatakan bahwa rentang normal pergerakan nilai tukar rupiah berada pada kisaran Rp13.200 dan Rp13.300 per dolar AS. Angka tersebut menjadi patokan bank sentral dalam melakukan intervensi pasar. “Bank Indonesia akan selalu hadir di saat rupiah mengalami fluktuasi kurs yang tinggi,” tandas Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara.

    Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi mematok kurs tengah berada di level Rp13.740 per dolar AS, menguat 6 poin atau 0,04% dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp13.746 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia perkasa versus greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,27% menghampiri rupee India.

    Sumber
     

Share This Page