web statistics

Ekonomi Domestik Masih Solid, Rupiah Rebound di Selasa Pagi

Discussion in 'Analisa Fundamental' started by pohonjambu, Mar 6, 2018.

  1. pohonjambu

    pohonjambu
    Expand Collapse
    New Member

    Joined:
    Sep 4, 2017
    Messages:
    4
    Likes Received:
    0
    [​IMG]

    Fundamental ekonomi domestik yang cukup baik mampu membuat rupiah rebound pada awal perdagangan Selasa (6/3) ini. Seperti dilaporkan Bloomberg Index, mata uang Garuda membuka transaksi dengan menguat 21 poin atau 0,15% ke level Rp13.741 per dolar AS. Sebelumnya, spot ditutup melemah tipis 5 poin atau 0,04% di posisi Rp13.762 per dolar AS pada Senin (5/3) kemarin.

    “Nilai tukar rupiah memang masih ada kecenderungan melemah walaupun pelemahan agak terbatas. Pelemahan tersebut disebabkan faktor sentimen, bukan karena fundamental ekonomi Indonesia yang jelek,” kata ekonom Bank Permata, Josua Pardede, seperti dilansir Kontan. “Sejak pertengahan Februari lalu, rupiah memang drop akibat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.”

    Ditambahkan Josua, Gubernur Federal Reserve, Jerome Powell, sudah dua kali berbicara di Kongres AS bahwa ekonomi negara tersebut cukup baik. Hal ini mendorong spekulasi kenaikan suku bunga The Fed dan pasar sudah mulai mengantisipasi sehingga terjadi kenaikan di yield obligasi Paman Sam. “Faktor itu membuat mata uang dolar AS menguat,” sambung Josua.

    “Jika mata uang Garuda dipandang terlampau melemah, maka Bank Indonesia langsung melakukan intervensi di pasar sehingga tidak terjadi pelemahan lebih lanjut,” tambah Josua. “Karena, biasanya ekspektasi belum terjadi, tetapi market sudah reaktif. Mungkin, pelemahan yang dialami mata uang dalam negeri terjadi sampai FOMC meeting mendatang.”

    Hampir senada, ekonom Bank Central Asia, David Sumual, menuturkan bahwa koreksi rupiah bisa terbatas karena mendapat sentimen positif dari keputusan Presiden AS, Donald Trump, yang memberlakukan tarif impor untuk baja dan aluminium. Selain itu, China yang optimistis menetapkan pertumbuhan 6,5% juga bisa memberikan tenaga bagi mata uang negara berkembang.

    Presiden Joko Widodo sendiri, pada Senin kemarin, angkat bicara mengenai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam beberapa waktu terakhir. Orang nomor satu di Indonesia tersebut mengingatkan kepada para anggota Kabinet Kerja untuk mengantisipasi perkembangan dinamika global yang bisa mengganggu roda pertumbuhan ekonomi nasional, salah satunya posisi rupiah yang terus tertekan hingga menyentuh level Rp13.800 per dolar AS.

    Sumber
     

Share This Page