web statistics


Kudapan Berita dan Fundamental

Discussion in 'Analisa Fundamental' started by GrandCapital_ID, Nov 13, 2017.

  1. [​IMG]

    Dolar tergelincir, Investor Cari Safe Havens Ekuitas?

    Dolar A.S. tergelincir pada hari Selasa setelah sebelumnya menguat ketika investor telah membuang aset berisiko dan memilih greenback yag relatif, namun pasar mata uang pada umumnya tenang dibandingkan dengan penurunan di pasar ekuitas.


    Aksi jual di seluruh pasar saham dunia membuat investor bergegas masuk ke dolar pada hari Senin, membuat mata uang A.S. itu catat performa baik terhadap euro, poundsterling Inggris dan mata uang terkait komoditas. Meskipun demikian, di awal perdagangan Eropa pada hari Selasa, dolar melepas sebagian penguatannya, dengan pasar mata uang tidak menunjukkan gerakan panik yang terlihat di jenis aset lainnya.

    Euro menguat 0,4 persen, mencoba menguat dari penurunan di sesi Senin, dan terakhir diperdagangkan di atas level $1,2417. Terhadap mata uang mayoritas , dolar turun 0,1 persen, setelah mencatat kenaikan besar sesi Senin.

    Yen Jepang dan franc Swiss, yang cenderung menarik perhatian investor pada saat terjadi tekanan pasar, keduanya naik meski kenaikan kedua mata uang tersebut masih teredam. Dolar tergelincir ke level 108,46 terhadap yen akibat goncangan di pasar ekuitas dan bertahan hingga perdagangan di Asia hari Selasa, namun kemudian mengurangi penurunan dan terakhir terpantau berada di level 109,29 yen.

    Penghindaran risiko investor memicu penurunan imbal yield obligasi A.S., yang menyebabkan jatuhnya dolar terhadap yen. Hasil Treasury Treasury A.S. meluncur sekitar delapan basis poin menjadi 2,719 persen di perdagangan Asia, turun dari level tertinggi empat tahun di 2,885 persen pada hari Senin.

    Terhadap euro, Franc Swiss flat di level 1.1526 franc, level terbaik sejak Oktober. Dolar Australia menguat setelah jatuh pada hari Senin. Aussie diperdagangkan pada di level 78,86 sen, memperpanjang aksi jual sejak akhir Januari.
     
  2. [​IMG]

    Dolar Menguat Iringi Pulihnya Pasar Saham

    Dolar menguat terhadap mata uang mayoritas pada hari Rabu setelah pasar keuangan global kembali tenang dengan para pelaku pasar membalikkan sebagian aksi rush ke aset safe haven dan kembali bergerak ke saham.


    Greenback telah menguat terhadap mata uang mayoritas seperti euro karena investor mencari perlindungan di tengah anjloknya pasar ekuitas global yang terlihat di awal minggu ini, yang dipicu oleh penurunan besar saham Wall Street.

    Saham Wall Street melambung sekitar 2 persen pada hari Selasa setelah mengalami aksi jual satu hari terbesar di lebih dari enam tahun. Fokus pasar saat ini masih pada saham A.S., yang merupakan sumber turbulensi terbaru di pasar global dan mata uang.

    Penguatan imbal hasil obligasi A.S. jangka panjang ke level tertinggi empat tahun baru-baru ini juga berperan memicu penurunan di pasar ekuitas, dan sementara imbal hasil telah kembali turun dari puncak tersebut, meski masih bertahan.

    Indeks dolar terhadap enam mata uang utama relatif diperdagangkan datar di level 89,608, menjauh dari levl puncak dua minggu 90,034 yang disentuh tadi malam.

    Euro beringsut naik 0,05 persen ke level $1,2384 setelah tergelincir ke level terendah dua minggu di level $1,2314 pada hari sebelumnya. Dolar turun 0,2 persen terhadap yen pada level 109,310 setelah naik 0,5 persen tadi malam. Pasangan mata uang itu masih nyaman di atas level bawah 108,460 yang disentuh di sesi sebelumnya ketika pasar ekuitas global bergerak liar.

    Terhadap yen, yang dianggap safe haven abadi di saat risk aversion, dolar bergerak cendrung defensif ketika ekuitas meluncur di awal minggu ini.

    Dolar Australia turun 0,2 persen pada level $0,7889 namun masih jauh dari level terendah satu bulan di level $0,7835 pada hari Selasa. Pound naik tipis 0,05 persen ke level $1,3961 setelah menyentuh level terendah $1,3838 tadi malam, terlemah sejak 19 Januari.

    Swiss franc, yang juga dianggap safe haven bersamaan dengan yen, stabil di 0,9355 franc per dolar setelah turun 0,45 persen tadi malam.
     
  3. [​IMG]

    Pasar Saham Asia Di Ujung Tanduk

    Perdagangan pasar saham Asia melepas kenaikan di awal sesi Rabu karena investor kembali melepas saham berjangka A.S. karena faktor aman, sebiah sinyalemen bahwa para pelaku pasar masih belum cukup yakin pasca kesemrawutan pasar global di pekan ini.


    Sementara sebagian besar analis percaya bahwa tekanan akinat aksi jual minggu ini tampaknya telah berjalan sesuai waktunya, sehingga volatilitas sedikit mereda, dan prospek pengetatan moneter di seluruh dunia masih menjadi tantangan untuk jangka panjang.

    Para pelaku pasar mengambil isyarat mereka dari kenaikan yang terlambat di Wall Street semalam, meskipun banyak pihak yang memiliki keraguan terhadap E-Mini berjangka untuk S&P 500 yang merosot sekitar 1 persen pada akhir perdagangan Asia. Dow jones Mini turun 0,9 persen.

    Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang sedikit mencatat pelemahan, setelah sempat mencatat kenaikan 2 persen pada awal sesi perdagangan.
    Indeks Nikkei Jepang juga melemah namun masih naik 0,2 persen. Indeks blue chip Cina dan indeks KOSPI Korea Selatan sama-sama mencatat penurunan lebih dari 2 persen. Pasar saham Hong Kong, Singapura dan India juga mengalami penurunan.

    Sektor obligasi mulai melihat ada aktifitas pembelian lagi, sebuah petunjuk bahwa risk appetite mungkin akan memudar, yang bisa memicu aksi jual ‘brutal’ di pasar saham. Imbal hasil obligasi 10 tahun A.S. turun menjadi 2,76 persen, setelah mencapai angka 2,80 persen di awal sesi hari ini.
     
  4. [​IMG]

    Saham global fluktuatif, kabar dari AS masih mendominasi

    Bursa Asia diperdagangkan naik-turun pada perdagangan kamis ini. Sementara itu, bursa AS masih belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan karena pelaku pasar masih menganalisa dampak pelemahan pasar yang terjadi beberapa hari terakhir.


    Seolah mengekor bursa AS, bursa Jepang juga mengalami kemerosotan termasuk bursa Hong Kong dan China.

    Beberapa pengamat memperkirakan banyak risiko yang akan muncul di masa depan. Selain itu kecemasan pasar bahwa the Fed akan mempercepat jadwal pengetatan moneter di tahun ini memicu melonjaknya yield obligasi pemerintah. Presiden the Fed cabang Chicago pada Rabu lalu mengatakan "bandelnya inflasi dapat memicu kenaikan suku bunga lebih lanjut."

    Analis juga mengingatkan bahwa setelah siklus ini akan ada siklus beli ketika harga sudah mencapai titik bawah dan itu akan terjadi dalam beberapa hari ke depan seandainya kondisi mendukung.

    Dari pasar mata uang dilaporkan, kiwi mengalami penurunan setelah bank sentral setempat memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi setelah menunda target pemenuhan inflasi. Euro naik menjadi $1,2283, mendekati level terlemah dalam 2 minggu terakhir. Pound terkoreksi pada $1,3896. Aussie diperdaangkan pada 78,23 sen AS dan kiwi drop 0,5% pada 72,01 sen AS. Minyak melanjutkan pelemahan setelah produksi minyak mentah di ladang-ladang AS menurun akibatkan menguatnya dolar.

    Beberapa agenda ekonomi yang perlu diperhatikan pada hari ini adalah keputusan kebijakan moneter Inggris, dimana pelaku pasar memperkirakan Gubernur Mark Carney akan terus mendukung penguatan pound yang nantinya akan membantu menekan inflasi. Beberapa perusahaan seperti Philip Morris, L'Oreal dan Twitter akan melaporkan hasil pendapatannya.
     
  5. [​IMG]

    Dollar Tembus Level Tertinggi 2 Minggu

    Dolar A.S. tembus level tertinggi dua minggu terhadap sejumag mata uang mayoritas pada hari Kamis setelah naik di sesi sebelumnya menyusul para pemimpin Senat A.Sumumkan kesepakatan anggaran dua tahun.


    Dolar naik setelah para pemimpin kongres A.S. pada hari Rabu mencapai kesepakatan anggaran dua tahun untuk meningkatkan belanja pemerintah hampir $300 miliar. Perjanjian anggaran tersebut mencegah risiko penutupan pemerintah atau default utang.

    Kenaikan dolar merupakan kelanjutan dari penguatan yang terjadi di tengah penurunan tajam harga saham pada hari Jumat dan pada hari Senin, memperlihatkan Dow Jones Industrial Average mencatat penurunan satu hari terbesar dalam catatan.

    Penurunan pada pasar ekuitas dipicu oleh data pertumbuhan payroll non pertanian A.S. yang cukup kuat sehingga mendorong ekspektasi bahwa Federal Reserve berpeluang besar akan menaikkan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan.

    Indeks dolar A.S., yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang mayoritas, naik 0,12% ke level 90,27 setelah naik 0,71% pada hari Rabu.

    Euro beringsut melemah terhadap dolar, dengan EUR/USD turun ke level 1,2248, yang merupakan level terlemah sejak 23 Januari. Dolar menguat terhadap yen, dengan USD/JPY naik 0,26% ke level 109,67.

    Pound sedikit melemah terhadap dolar dan euro menjelang pertemuan kebijakan Bank of England di hari ini yang diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga. GBP/USD terakhir terpantau berada di level 1,3862 sementara EUR/GBP diperdagangkan di level 0,8827.

    Sementara itu, dolar Selandia Baru jatuh ke posisi terendah satu bulan dalam semalam setelah Reserve Bank of New Zealand mempertahankan suku bunga pada rekor terendah. NZD/USD terakhir diperdagangkan di level 0,7201 setelah sebelumnya sempat jatuh ke level 0,7177.
     
  6. [​IMG]

    Pasar Saham Asia Terhantam, Safe Havens Jadi Incaran

    Pasar saham Asia jatuh ke posisi terendah dua bulan di sesi Jumat ini setelah saham Wall Street kembali mengalami penurunan besar dalam menghadapi imbal hasil obligasi yang meningkat pesat, dengan aset safe haven seperti yen dan franc Swiss menjadi incaran pasar di tengah gejolak ini.


    Indeks MSCI di luar Jepang turun 2,3 persen ke level terendah dua bulan. Indeks saham terbesar Asia Pasifik ini, yang sempat mencapai rekor tertinggi pada 29 Januari lalu, menuju penurunan ke-enam hari berturut-turut dan turun menjadi sekitar 7,7 persen dalam sepekan.

    Indeks Nikkei Jepang merosot 3,3 persen, dan menuju penurunan mingguan sebesar 8,9 persen. indeks saham Australia turun 1,15 persen dan KOSPI Korea Selatan turun 1,7 persen. Sementara, indeks Hang Seng (HSI) Hong Kong turun 2,8 persen dan indeks Shanghai turun 2,85 persen.

    Pasar saham A.S. masih menjadi pusat aksi jual global, dengan indeks Dow Jones merosot 4,1 persen dan indeks S&P 500 meluncur turun 3,7 persen semalam.

    Penurunan baik pada indeks S&P 500 dan Dow jones yang meluncur ke wilayah koreksi di sesi kami, kedua indeks AS itu turun lebih dari 10 persen dari rekor tertinggi 26 Januari dan menunjukkan bahwa situasi pasar masih belum kondusif dari penurunan yang dimulai seminggu yang lalu.

    Yield obligasi lebih tinggi berperan mempengaruhi pasar ekuitas karena mereka meningkatkan biaya pinjaman bagi perusahaan dan mengurangi risk appetite. Pasar obligasi juga memberikan alternatif baru bagi investor yang ingin mengalokasikan kembali beberapa dana ke obligasi dari ekuitas.

    Yield obligasi 10 tahun AS naik hingga mencapai 2,884 persen di sesi Kamis, tepat di bawah level tertinggi empat tahun yang di capai pada Senin di 2,885 persen. Terakhir bertahan di 2,8385 persen.

    Di sektor mata uang, dolar hanya diperdagangjan tipis terhadap yen pada level 108,800 yen, setelah di sesi kemarin turun 0,5 persen. Dolar menuju penurunan 1,5 persen terhadap yen Jepang dalam sepekan ini. Swiss franc juga relatif tidak bergerak besar terhadap dolar AS dan diperdagangkan pada level 0,9370 franc per dolar setelah di sesi kemarin mencatat kenaikan sekitar 0,7 persen.

    Indeks dolar terhadap enam mata uang utama diperdagangkan flat pada level 90,238 setelah menyentuh level tertinggi dua minggu di 90,567 pada sesi kemarin.
     
  7. [​IMG]

    Upaya Saham Untuk rebound, Keresahan Inflasi Dorong Obligasi

    Pasar saham Asia relatif sedikit tenang pada perdagangan sesi Senin setelah S&P futures memperpanjang penguatannya, meski investor obligasi masih mencemaskan risiko dari data inflasi A.S. yang menjulang.


    Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang naik tipis 0,8 persen, setelah pekan lalu turun 7,3 persen. Baik Korea Selatan maupun China naik 0,8 persen, sementara Nikkei Jepang ditutup untuk liburan.

    E-Mini futures S&P 500 naik 0,5 persen, menambah kenaikan di sesi Jumat. Namun, penurunan yang relatif tajam 12 poin pada Treasury bond futures menunjukkan bahwa terlalu awal untuk menunjukkan volatilitas yang jelas.

    Tantangan utama diyakini ada pada data harga konsumen A.S. pada hari Rabu yang dikhawatiran jika inflasi lebih cepat, hingga kenaikan suku bunga yang lebih agresif, yang memicu penurunan global menjadi fokus utama.

    Perkiraan median untuk inflasi harga konsumen sedikit melambat menjadi hingga 1,9 persen pada bulan Januari, terutama karena pengaruh yang mendasari laporan kenaikan pada bulan Januari 2017, sementara indeks inti diperkirakan turun hingga 1,7 persen.

    Jika laporan inflasi sesuai atau di bawah ekspektasi kemungkinan akan menjadi bukti besar, sementara jika laoran lebih tinggi kemungkinan menghasilakn kekhawatiran pasar, mendongkrak yield obligasi dan menghantam pasar saham.

    Namun, gejolak di pekan lalu terjadi ketika indeks acuan S&P 500 turun 5,2 persen pekan lalu, penurunan terbesar sejak Januari 2016. Dari sembilan puluh enam saham S&P 500, 20 persen atau lebih, mencatat penurunan dari harga tertinggi satu tahun mereka, menurut data Thomson Reuters.

    Di Asia, saham Hong Kong yang melambung tinggi, di pekan lalu justru merosot hampir 10 persen selama seminggu, sementara indeks Jepang turun 8,1 persen dan Korea Selatan merosot 6,4 persen.

    Indeks volatilitas S&P 500, VIX, relatif meningkat di 29 persen.

    Sementara itu, yield Treasury A.S. 10 tahun sentuh level tertinggi empat tahun di 2,885 persen, terus di atas imbal hasil S&P 500 sebesar 2,34 persen. Kenaikan yield ini memberikan beberapa dukungan terhadap dolar A.S., yang naik 1,4 persen terhadap mata uang mayoritas di minggu lalu hingga saat ini berada di level 90,186.
     
  8. [​IMG]

    Dolar Tergelincir, Saham Stabil Pasca Selloff

    Dolar tergelincir terhadap sejumlah mata uang mayoritas di sesi Senin setelah pasar saham Asia mencatat penguatan setelah aksi jual pekan lalu, sehingga mengurangi permintaan safe haven untuk greenback.


    Indeks dolar A.S., yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang mayoritas, turun 0,11% menjadi 90,13. Indeks dolar mencatat kenaikan 1,45% pada pekan lalu.

    Pasar saham di Hong Kong dan China menguat di sesi senin ini dan AS memperpanjang kenaikan, dan menambah kenaikan yang diperoleh pada hari Jumat. Indeks Nikkei Jepang ditutup untuk liburan.

    Pasar saham A.S. akhiri sesi perdagangan akhir pekan kemarin dengan kenaikan namun masih mencatat minggu terburuk mereka dalam dua tahun akibat kekhawatiran inflasi yang lebih cepat dan kenaikan suku bunga yang lebih agresif memicu kekisruhan pasar global yang terus berlanjut. Investor saat ini nantikan data inflasi A.S. yang akan dirilis pada hari Rabu. Laporan yang lebih kuat dari perkiraan dapat kembali menghantui pasar.

    Dolar melemah terhadap safe haven yen, dengan USD/JPY turun 0,24% di level 108,53, namun masih bertahan di atas level kenaikan empat bulan di 108,03 yang dicapai pada hari Jumat. Dolar turun hampir 1,3% terhadap yen pekan lalu. Laporan pada hari Senin di Jepang menunjukkan Haruhiko Kuroda akan diangkat kembali sebagai kepala Bank of Japan dan kemungkinan melanjutkan kebijakan moneter ultra-longgar negara tersebut.

    Di eropa, euro beringsut menguat terhadap dolar AS, dengan EUR/USD naik 0,14% di level 1,2267. Mata uang tunggal tersebut akhiri pekan lalu dengan penurunan 1,82%, persentase penurunan mingguan terbesar sejak November 2016.

    Sterling bergerk tipis terhadap dolar dan euro, dengan GBP/USD diperdagangkan pada level 1,3833 dan EUR/GBP diperdagangkan pada level 0,8863. Pound melemah terhadap dolar dan euro pada hari Jumat setelah Michel Barnier, perunding Brexit Uni Eropa memperingatkan Inggris bahwa kesepakatan transisi pasca-Brexit "tidak diberikan".
     
  9. [​IMG]

    Stabilitas pasar Ekuitas Dorong Dolar kembali Melemah

    Dolar kembali tergelincir pada sesi perdagangan Selasa setelah pasar ekuitas global menunjukkan tanda stabilitas menyusul hasil buruk -baru ini, kembali menyulut risk appetite dan membuat dolar A.S. hrus berupaya defensif akibat kekhawatiran menyusutnya keuntungan imbal hasil.


    Indeks dolar, parameter perdagangan dolar AS terhadap enam mata uang mayoritas terpantau berada pada level 90.142, turun 0,26 persen pada hari Senin dan menjauh dari level tertinggi setengah bulan di 90,569 yang dicapai pada sesi Kamis pekan lalu.

    Sementara itu, euro diperdagangkan pada level $1,2298, melonjak dari level terendah minggu lalu di $1,2206, meski masih di bawah level tertinggi 3 tahun di $1,2538 yang dica[ai pada 25 Januari.

    Aksi beli euro menjadi salah satu tren di awal tahun ini dengan pandangan bahwa Bank Sentral Eropa akan mengurangi stimulusnya akhir tahun ini didukung oleh pemulihan yang kuat dalam ekonomi zona euro.

    Poundsterling naik tipis ke level $1,3846 dari level terendah sesi Jumat di level $1,3764. Meskipun ketidakpastian seputar Brexit, namun pound ditopang oleh ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of England guna mengendalikan inflasi.

    Kembali meningkatnya risk appetite mendorong penguatan yen, dengan dolar diperdagangka pada level 108,70 yen, pulih dari level terendah lima bulan yang dicapai pada sesi Jumat di level 108,05 yen.

    Pasar saham global bukukan rebound yang kuat sejak aksi jual brutal yang dimulai di akhir Januari atas kekhawatiran tentang kenaikan tekanan inflasi.

    Inflasi yang lebih tinggi dapat mendorong Federal Reserve memperketat kebijakannya lebih cepat dari perkiraan. Sebagai alternatif, jika Fed tidak bertindak cukup cepat dan berada di bawah kurva kebijakan, hal itu akan berakhir pada mendorong imbal hasil obligasi jangka panjang. Dalam kedua skenario tersebut, para pelaku pasar khawatir bahwa pertumbuhan A.S. bisa terhambat.

    Beberapa indikasi menunjukkan kekhawatiran tersebut mulai mereda, diantaranya dengan saham Wall Street rebound kuat pada hari Senin dan indeks saham dunia MSCI meningkat 1,2 persen. Meski begitu, pelaku pasar tidak yakin kondisi terburuk sudah berakhir.

    Imbal hasil obligasi 10 tahun A.S. mencapai level tertinggi empat tahun di 2,902 persen sementara yield 30-tahun naik ke level tertinggi 11-bulan di 3,199 persen.
     
  10. [​IMG]

    Inflasi Inggris Lampaui Perkiraan

    Tingkat inflasi Inggris stabil pada bulan Januari, setelah laporan inflasi terus mereda dari level kenaikan 5 tahun, data menunjukkan pada hari Selasa.

    Dalam sebuah laporan, Kantor Statistik Nasional (ONS) mengatakan bahwa tingkat perubahan tahunan indeks harga konsumen naik menjadi 3,0% di bulan Januari, sama seperti bulan sebelumnya. Para ekonom memperkirakan indeks CPI berada di 2,9%.

    Inflasi turun sebesar -0,5% di bulan Januari, dibandingkan dengan ekspektasi penurunan 0,6%. Inflasi di bulan lalu mencatat kenikan 0,4%.
    CPI inti, yang tidak termasuk harga pangan, energi, alkohol, dan tembakau, naik menjadi 2,7%, dibandingkan laporan bulan sebelumnya 2,5%. Analis memperkirakan CPI inti sebesar 2,6%.

    Sementara itu, indeks harga eceran (RPI) naik 4,0% pada basis tahunan di bulan Januari dibandingkan dengan 4,1% pada bulan Desember dan dibawah ekspektasi kenaikan 4,1%. RPI turun negative 0,8% pada basis bulanan dibandingkan dengan ekspektasi kenaikan 0,8% di bulan Desember. Para ekonom memperkirakan indeks akan turun 0,7%.

    RPI inti meningkat sebesar 4,0% pada basis tahunan dibandingkan dengan 4,2% di bulan sebelumnya. Data tersebut juga menunjukkan bahwa indeks harga rumah naik sebesar 5,2% di Januari, dibandingkan dengan 5,0% pada bulan sebelumnya, yang direvisi turun dari 5,1%. RPI inti basis bulanan turun 0,8%, dibandingkan dengan 0,8% pada bulan sebelumnya.

    Dalam laporannya, ONS mengatakan bahwa tekanan penurunan ini berasal dari harga bahan bakar kenderaan bermotor, yang sedikit meningkat dari setahun yang lalu. Namun, penurunan pada sektor wisata dan jasa menyebabkan kenaikan inflasi.
     

Share This Page